Senin, 14 Juli 2008

Pernahkah Terpikirkan Atau Lupa ?

Pernahkah antum berpikir bahwa antum diciptakan oleh Sesuatu Yang Maha Hebat? Pernahkah antum berpikir kita diciptakan dari tanah? Pernahkah antum berpikir bahwa kita adalah mahkluk yang lemah? Pernahkan antum berpikir kita hidup dan punya roh? Pernahkah antum berpikir kita pasti akan mati? Lupakah kita bahwa kita diciptakan untuk menjadi penghuni bumi? Lupakah kita bahwa di banyak orang di sekeliling kita? Lupakah kita perbuatan kita nanti bakal dipertanggungjawabkan? Lupakah kita kalau kita punya Tuhan?

Pernahkah kita bersyukur atas Sesuatu Yang Maha Hebat tersebut? Pernahkan kita merasa kita diciptakan dari tanah (sesuatu yang rendah & diinjak-injak)? Pernahkah kita merasa kita adalah sesuatu yang lemah dibanding ciptaan-ciptaan Sang Pencipta yang lain, seperti : Gunung, Laut, dll? (Apakah kita mampu mengatasi ketika gunung sedang meletus atau Gelombang Laut yang marah atau tsunami)? Pernahkan kita merasa sebenarnya kita hidup karena ada yang menghidupkan dan ada roh yang sewaktu-waktu hilang dari raga kita? Pernahkah anda merasa jasad kita akan mati, tidak berguna, dan ditanam dalam tanah?

Lupakah kita memang ditakdirkan untuk hidup di dunia yang fana' (rusak) yang penuh dengan dosa? Lupakah bahwa akan seumur hidup berada di lingkungan manusia yang saling membutuhkan? Lupakah kita segala perbuatan yang baik atau buruk yang pernah kita lakukan pada akhirnya ada pertanggung jawabannya? Lupakah kita bahwa kita memang punya Dzat segala-segalanya yaitu Alloh ‘Azza wa Jalla, yang setiap saat harus kita ingat?

Pengirim: Ibnu Muhammad


Sumber: www.mediamuslim.info

Kisah Neraka Jahannam

Dikisahkan dalam sebuah hadis bahwa sesungguhnya neraka Jahannam itu adalah hiam gelap, tidak ada cahaya dan tidak pula ia menyala. Dan ianya memiliki 7 buah pintu dan pada setiap pintu itu terdapat 70,000 gunung, pada setiap gunung itu terdapat 70,000 lereng dari api dan pada setiap lereng itu terdapat 70,000 belahan tanah yang terdiri dari api, pada setiap belahannya pula terdapat 70,000 lembah dari api.

Dikisahkan dalam hadis tersebut bahwa pada setiap lembah itu terdapat 70,000 gudang dari api, dan pada setiap gudang itu pula terdapat 70,000 kamar dari api, pada setiap kamar itu pula terdapat 70,000 ular dan 70,000 kala, dan dikisahkan dalam hadis tersebut bahwa setiap kala itu mempunyai 70,000 ekor dan setiap ekor pula memiliki 70,000 ruas. Pada setiap ruas kala tersebut ianya mempunyai 70,000 qullah bisa.

Dalam hadis yang sama menerangkan bahwa pada hari kiamat nanti akan dibuka penutup neraka Jahannam, maka sebaik saja pintu neraka Jahannam itu terbuka, akan keluarlah asap datang mengepung mereka di sebelah kiri, lalu datang pula sebuah kumpulan asap mengepung mereka disebelah hadapan muka mereka, serta datang kumpulan asap mengepung di atas kepala dan di belakang mereka. Dan mereka (Jin dan Mausia) apabila terpandang akan asap tersebut maka bergetarlah dan mereka berlutut dan memanggil-manggil, “Ya Tuhan kami, selamatkanlah.”

Diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah S.A.W telah bersabda : “Akan didatangkan pada hari kiamat itu neraka Jahannam, dan neraka Jahannam itu mempunyai 70,000 kendali, dan pada setiap kendali itu ditarik oleh 70,000 malaikat, dan berkenaan dengan malaikat penjaga neraka itu besarnya ada diterangkan oleh Allah S.W.T dalam surah At-Tahrim ayat 6 yang bermaksud : “Sedang penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras.”

Setiap malaikat apa yang ada di antara pundaknya adalah jarak perjalanan setahun, dan setiap satu dari mereka itu mempunyai kekuatan yang mana kalau dia memukul gunung dengan pemukul yang ada padanya, maka nescaya akan hancur lebur gunung tersebut. Dan dengan sekali pukulan saja ia akan membenamkan 70,000 ke dalam neraka Jahannam.


April 20, 2007 · Filed under Nasehat Islami

Sabtu, 12 Juli 2008

Bukalah Pintu Perubahan

Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan inspirasi perubahan dalam kehidupan adalah firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)
Tahukah Anda, siapa Allah? Dia Yang Maha Kuat dan Maha Agung, Dia Yang Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Dengan kebesaran dan keagungan-Nya Dia mempersilahkan kita membuka sendiri pintu-pintu perubahan, memberikan kesempatan kehendak dan perbuatan-Nya (“Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum”) kepada kehendak dan perbuatan kita yang lemah (“sehingga mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”).

Apakah yang dimaksud dengan perubahan? Apakah berarti perubahan tindakan dan perilaku?
Mungkin kita bisa mengubah perlakuan terhadap istri dan anak-anak kita. Untuk melakukan perubahan secara berkesinambungan harus dimulai dari dalam diri; mulai dari perubahan prinsip-prinsip dasar dan prilaku yang selama ini salah menjadi benar.
Tuntutan perubahan bukan dalam bentuk perlakuan. Mungkin kita berteriak kepada anak-anak kita, lalu istri kita mengingatkan kita agar tidak berteriak, kemudian kita menghentikannya. Perubahan semacam ini adalah perubahan dalam bentuk posisi dan tindakan lahir. Apakah dengan cara ini yang dimaksud mengubah perlakuan terhadap anak-anak kita?
Yang terpenting bukanlah perubahan dalam bentuk posisi dan tindakan lahir, akan tetapi perubahan yang sesungguhnya adalah perubahan prinsip (konsep). Apakah ketika Umar bin Khattab berubah hanya berubah dalam bentuk (lahir)? Benar, Umar berubah dari bersikap keras terhadap Islam kepada sikap keras (membela) Islam. Ini merupakan perubahan dalam bentuk (lahir) dan perlakuan. Perbedaannya bahwa sebelum mengenal Islam Umar keras dalam kezhaliman, sedangkan setelah masuk ke dalam Islam ia keras dalam memperjuangkan keadilan. Yang kita butuhkan adalah perubahan dari zhalim menjadi adil.
Yang penting bagi suami yang sering pulang terlambat dari tempatnya bekerja bukan tidak mengulanginya lagi. Akan tetapi yang terpenting adalah perasaan cinta, dan kasih sayang terhadap istrinya, bahwa dia menanti kedatangannya dengan setia di rumah. Jika perubahan yang terjadi berupa hal-hal prinsip dan persepsi-persepsi dasar yang bersemayam di dalam diri, maka semua tindakan dan prilakunya akan berubah. Kalau suami merasakan tarikan cinta dan kasih sayang pada istrinya, ia akan berusaha untuk tidak terlambat pulang; ia akan memperlakukan istrinya dengan cara yang lebih segala-galanya.

Mari kita buka pintu perubahan
Kita semua mengendalikan pintu perubadan dari dalam, dan memegang sendiri kuncinya. Tidak mungkin orang lain yang akan membuka pintu kita dari luar, meskipun dengan kemampuan intelektual yang tinggi atau dengan dorongan emosional.
Bukalah pintu perubahan dari dalam diri anda sendiri, sehingga kebiasaan-kebiasaan sukses masuk ke dalam diri anda, dan anda nikmati kesuksesan itu, pada akhirnya anda bisa mengerti makna kebahagiann.
Ketika anda membuka pintu perubahan:
1. Akan terjadi evolusi (pertumbuhan secara perlahan), kemudian ledakan (revolusi) dalam kepribadian dan relasi (hubungan) anda.
2. Kepercayaan diri anda akan meningkat, anda akan memahami jati diri, segenap potensi dan kemampuan anda yang sebenarnya.
3. Anda akan berdiri tegak dengan kemampuan anda sendiri, karena anda hidup dengan kedirian, eksistensi dan nilai yang khusus hanya milik anda. Dengan demikian anda akan merasakan kedamaian dan ketulusan.
4. Ketergantungan anda kepada orang lain akan berkurang, dan perhatian anda kepada pendapat orang lain akan meningkat.
5. Anda akan berhenti membangun kehidupan yang emosional atas kelemahan orang lain.
6. Anda akan mampu membangun hubungan-hubungan baru dan memperbaiki hubungan-hubungan lama.
7. Anda tahu bagaimana mengisi “batery” kehidupan (menghimpun kekuatan dan menmanfaatkannya).
8. Kebiasaan-kebiasaan yang tercecer pada diri anda akan berubah menjadi kebiasaan-kebiasaan yang efektif bagi diri anda.
Semua hal itu melalui peralihan kebiasaan dari ketergantungan menuju kebebasan (kebiasaan-kebiasaan mengatur diri).
Bukalah pintu perubahan, andalah yang memegang kuncinya, agar orang lain masuk ke dalam dunia anda dan bersama mereka anda bisa merajut kerjasama.
Dengan demikian anda akan:
? Mampu membangun hubungan bersama orang lain.
? Mampu memberikan pengaruh kepada orang lain.
? Membangun hubungan yang kokoh dan positif bersama orang lain.
? Merajut kembali hubungan yang telah retak.
? Memperkokoh hubungan yang telah terjalin.
? Memperluas jangkauan hubungan.
Semua hal itu melalui peralihan kebiasaan dari kebebasan menuju kerjasama dan interelasi sosial (kebiasaan-kebiasaan pribadi yang fungsional).
Bukalah pintu perubahan. Angkatlah gundukan tanah yang menutupi jalannya, yaitu dengan jalan pemantapan diri; merubah prilaku-prilaku negatif yang menghalangi kesuksesan menjadi prilaku-prilaku positif yang akan mempersembahkan kenikmatan meraih kesuksesan kepada anda.
Dengan penuh kesabaran, bukalah pintu perubahan. Sesungguhnya apa yang anda dapatkan dengan instan tidak akan memberikan kenikmatan kepada anda, kenikmatan akan anda rasakan setelah anda melalui jerih payah untuk meraihnya.

Ingatlah Selalu

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfâl [8]: 53)


(Disarikan dari buku Mut’atun Najah, [Puncak Kesuksesan], karya DR. Akram Ridha)

Menjadi Pribadi yang Dicintai dan Disenangi

Orang yang dicintai adalah pribadi yang disenangi, dirindui, membuat bahagia ketika bertemu dan membuat senang berada di dekatnya.
Kerinduan dan daya tarik yang ada pada sosok yang dicintai, patut dicermati dan membikin kita bertanya-tanya.
Mengapa orang-orang tertarik pada sosok yang dicintai tersebut?
Mengapa mereka merasa senang bertemu dengannya?
Mengapa mereka bahagia jika mengingatnya?
Bagaimana seseorang dapat dicintai sampai pada tingkatan seperti ini?
Apakah aku bisa menjadi sosok yang dicintai?

Apakah aku bisa menjadi seperti orang yang dikatakan dalam sebuah syair:
Dia memiliki cerita kenangan tentangmu yang melalaikannya
dari minuman dan bekal yang disenanginya
Dia memiliki cahaya yang menyinari karena wajahmu
dan ceritamu yang memikatnya
Jika dia mengeluh keletihan dalam perjalanan
Maka keinginan untuk bertemu memberinya kekuatan

****

Taburkan Cinta, Kamu Menuai Cinta
Ada seseorang menyaksikan sahabatnya dari kejauhan, lalu berkata, “Orang itu mencintaiku." Mendengar ungkapan ini, orang-orang yang sebangku dengannya bertanya membantah. Mereka berkata, “Jika kamu mencintainya, itu urusanmu. Mau kamu sebarkan kepada orang lain atau tidak. Adapun jika kamu menyebutkan bahwa dia mencintaimu, itu adalah urusannya. Bukan urusanmu. Dan, kamu tidak memiliki bukti cintanya padamu.” Orang itu berkata, “Ia mencintaiku karena aku mencintainya.”
Artinya bahwa bukti pengakuan cinta seorang yang dicintai tidak muncul dari hati orang yang dicintai. Akan tetapi, pertama kali cinta itu tumbuh dan mulai muncul dari hati orang yang mencinta. Ketika hatinya ridha atas cinta dan tetap mencintainya, maka hasilnya adalah orang lain mencintainya.
Setiap kali cinta bersemi dalam hatinya, maka ketika itu lingkaran orang yang dicintai meluas. Untuk memperoleh keadaan seperti ini, ia harus terlebih dahulu mencabut duri kebencian yang terdapat di dalam hatinya.
Dengan usaha yang sungguh-sungguh, maka duri kebencian itu tercabut dari dirinya, dan pada waktu yang sama juga tercabut dari hati sahabatnya. Jika ada orang yang mengeluhkan muka masam orang lain, maka ketahuilah dia telah mencemari sumur yang manis di balik tulang rusuknya, yaitu hatinya.
Karena kebencian terhadap orang lain, lalu apa lagi yang diharapkan setelah duri tertanam?
Benar. Jika anda ingin dicintai orang, maka cintailah ia terlebih dahulu dengan tulus. Ketahuilah bahwa dengan cintamu padanya ia akan mencintaimu.
Sebesar ketulusan cintamu padanya, maka sebesar itu pula ketulusan cintanya padamu.
Jika ini yang menjadi ketentuan dalam hubungan antar sesama manusia, maka orang Mukmin memiliki keadaan yang lain.
Iman telah menyinari hati mereka. Cahayanya menyebar kemana-mana. Tapi boleh jadi mengalami kedengkian dan kerakusan, akan tetapi semua itu akan lebur dalam pantai mereka yang landai. Bahkan mereka menjadikan rintangan sebagai jalan menuju kemajuan dan tangga untuk menggapai derajat keimanan tertinggi.
Seorang shalih berkata, “Aku mencintai tiga jenis orang, yaitu orang yang mencintaiku, orang yang membenciku dan orang yang tidak menaruh perhatian padaku.”
Kemudian menjelaskan semua itu dengan mengatakan,
- Orang yang mencintaiku, dia telah mengajarkanku kelembutan dan cinta.
- Adapun orang yang membenciku, karena dia telah mengajariku kewaspadaan.
- Sedangkan orang yang tidak menaruh perhatian padaku, karena dia telah mengajarkanku untuk mandiri setelah bergantung pada Allah.
Kita harus memberikan cinta terhadap seluruh kaum Muslimin. Ketika benih cinta, kelembutan dan kebaikan tumbuh dalam diri kita, maka kita dapat melenyapkan beban dan kesusahan besar yang bersemayam di dalam hati. Kita tidak perlu mengharap adanya perhatian orang lain. Karena ketika itu kita akan menjadi orang-orang yang benar dan ikhlas. Kita tidak menafikan sisi kebaikan manusia, sehingga dia patut mendapat penilaian yang baik. Akan tetapi kita tidak dapat mengetahuinya dan melihatnya kecuali ketika tumbuh benih cinta dalam diri kita.
Berapa banyak kita memberikan ketenangan, kesenangan dan kebahagiaan kepada diri kita, ketika kita memberikan kelembutan, cinta dan kepercayaan kita kepada orang lain. Pada saat itulah benih cinta, kelembutan dan kebaikan kita akan tumbuh di dalam diri kita. Mari kita mulai dari sekarang, memberikan cinta kepada orang lain. Perhatikanlah! Apakah kita menuai selain cinta?
Hendaklah kita tidak perlu menyembunyikan perasaan kita terhadap orang yang kita cintai. Hal ini sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw. kepada kita. Kita perlu menjelaskan bahwa kita mencintai mereka karena Allah. Hal itu akan menambah perasaan cinta di antara kita.
Diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Nabi Saw. berkata,
“Jika seseorang mencintai saudaranya hendaklah memberitahukan padanya bahwa ia mencintainya.”
Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad shahih dari Anas r.a., “Bahwa seseorang sedang berada di sisi Rasulullah Saw., lalu seseorang lewat di hadapan beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku mencintai orang ini.”
Maka Nabi Saw. berkata, “Apa kamu telah memberitahukan hal itu padanya?”
Orang itu menjawab, “Belum.”
Beliau berkata, “Beritahukan padanya.” Orang itu kemudian mengikutinya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.”
Orang itu berkata, “Aku mencintaimu karena Allah sebagaimana engkau mencintaiku karena Allah.”
Di antara kesalahan yang tersebar saat ini, adalah banyak dari kita menyembunyikan perasaannya terhadap orang yang dicintainya. Sehingga perasaan cintanya tidak diketahui oleh orang yang dicintainya.
Seorang istri berkata kepada suaminya, “Engkau telah berubah, tidak lagi memanggilku dengan kata-kata sayang, seperti yang engkau perdengarkan padaku sebelum kita menikah.”
Si suami menjawab, “Istriku, pernahkah kamu melihat seorang nelayan memberi makan (atau umpan) ikan setelah berhasil memancingnya?”
Ini adalah pemahaman dan kelakuan yang salah, dan termasuk perlakuan yang menyakitkan.
Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Nabi Saw. tentang cinta beliau kepadanya. Nabi menjawab, “Sesungguhnya cintaku kepadamu wahai Aisyah bagaikan simpul tali.”
Nabi Saw. mencurahkan cintanya kepada para sahabat dan umatnya, serta kepada semua umat manusia. Di antara ayat yang diturunkan oleh Allah Swt. berkenaan dengan ini adalah, “Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (Asy-Syu‘ara [26]: 3)
Demikian pula firman Allah Swt., “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).” (Al-Kahfi [18]: 6)
Saking cintanya kepada umatnya, hingga suatu hari ketika Jibril turun padanya dan mendapatinya sedang menangis, Jibril bertanya, “Apa yang kamu tangisi?”
Rasulullah menjawab, “Umatku wahai Jibril.”
Maka Jibril memberinya kabar gembira dari Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang, “Kami meridhaimu terhadap umatmu dan kami tidak menyedihkanmu.” (HR. Muslim)
Cinta Rasululullah Saw. pada umatnya amat besar. Sampai-sampai menempatkannya dalam posisi yang lebih dekat kepada mereka dari diri mereka sendiri. Kasih sayang beliau telah terpatri dalam hati mereka. Anggota badan mereka terbius oleh cintanya dan lidah mereka berucap karena kekuatan cinta beliau. Di antara ucapan mereka kepada Nabi Saw. adalah:
“Jiwaku sebagai tebusan bagimu.”
“Demi bapak-ibuku, engkau lebih utama bagiku wahai Rasulullah.”
Mereka tidak akan tenang sebelum melihat wajah dan bayangan Nabi. Jiwa mereka tidak akan tenteram jika mata mereka belum disejukkan dengan melihat beliau.
Diriwayatkan oleh Imam Al-Baghawi dari Tsauban, mantan budak Rasulullah Saw. Tsauban sangat mencintai Rasulullah Saw. dan tidak bisa bersabar untuk melihat beliau.
Suatu hari, Tsauban didatangi Rasulullah Saw. dan melihat wajahnya pucat. Maka beliau bertanya, “Wahai Tsauban! Apa yang membuatmu pucat?”
Tsauban menjawab, “Wahai Rasulullah! Aku tidak sakit. Akan tetapi, jika aku tidak melihatmu, aku merasa sangat kesepian dan sedih sampai aku berhasil menemuimu. Kemudian aku ingat akhirat dan aku takut tidak bisa lagi melihatmu. Karena kamu akan diangkat bersama dengan para Nabi. Dan, jika aku masuk surga, pasti tempatku di bawah tempatmu. Jika aku tidak masuk surga, niscaya selamanya aku tidak bisa melihatmu.”
Rasa cinta dan loyal para sahabat seperti inilah yang menjadikan mereka mencintai Rasulullah, karena beliau mencintai mereka sebelum mereka mencintainya. Sampai-sampai Abu Sufyan berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang mencintai seseorang seperti cinta sahabat kepada Muhammad.”
Alangkah indahnya perkataan Luqman Al-Hakim berikut, “Tidak ada yang menguatkan cinta kecuali cinta. Setiap kali engkau mencintai seseorang dan memberikannya dengan sepenuh hati, berarti engkau telah menambah darah baru dalam hatinya.”
Sapalah temanmu dengan mengatakan,
Hai kekasihku, sahabat dan temanku
Cintaku bukanlah basa-basi atau terpaksa
Sambutlah aku dengan kata-kata, ‘Saudaraku’, ‘Temanku’
Ingatlah, itu adalah perkataan yang paling nikmat
Jika kamu ingin berjalan sendiri
Jika kamu merasa bosan terhadapku
Silakan! Namun, engkau akan mendengar suaraku
Memanggilmu, ‘Saudaraku’,
Gema cintaku akan mendatangimu di manapun engkau berada
Lalu engkau akan mengerti keindahan dan keagungannya

Ingatlah selalu, saudaraku yang tercinta! Jika kamu ingin orang-orang mencintaimu Maka berikanlah cinta yang tulus kepada mereka


(Disarikan dari buku Kaifa Takunu Mahbuban (tips menjadi pribadi yang dicintai), Dr. Majid Ramadhan)

Tahukah Anda Apakah Surga itu ?

Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullahu dari Mughirah bin Sya’bah r.a., dia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Nabi Musa a.s. bertanya kepada Tuhannya, ‘Level apa, tempat paling rendah bagi penghuni surga?’ Allah menjawab, ‘Level seorang laki-laki yang datang setelah penghuni surga yang lain dipersilakan masuk ke surga, lalu dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke surga.’

Lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku… kenapa bisa demikian, sementara manusia menempati tempat mereka dan mengambil bagian mereka?!’

‘Apakah kamu tidak mau mempunyai seperti kekuasaan seorang raja di dunia?’

‘Ya Tuhanku, saya mau?’

‘Kamu mendapatkan itu, dan yang serupa, dan yang serupa, dan yang serupa dan yang serupa!

Untuk yang kelima kalinya dia berkata, ‘Saya rela, ya Tuhanku.’

‘Ini untukmu dan sepuluh kali lipatnya! Dan kamu mendapatkan apa yang diinginkan oleh hawa nafsumu dan yang enak dipandang oleh matamu!

‘Saya rela, ya Tuhanku.’ Kemudian Musa bertanya lagi, ‘Ya Tuhanku, level apa, tempat paling tinggi bagi penghuni surga?’

‘Level orang-orang yang Aku kehendaki, yang Aku tanam karamah mereka atas kekuasaan-Ku, lalu Aku menyempurnakan karamah tersebut; tempat tersebut belum pernah terlihat oleh mata, belum terdengar oleh telinga, dan belum terdetak dalam hati manusia.”

Rasulullah SWT bersabda, hal ini sesuai dengan firman Allah,

“Tak seorang pun mengetahui berbagai ni'mat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. as-Sajdah: 17)

Hal ini bukan berarti seorang muslim menyepelekan upayanya untuk mendapatkan surga dengan hanya berharap level surga paling rendah, bahkan dia dituntut agar semangat dan sungguh-sungguh untuk mencapai level surga paling tinggi: al-Firdausu al-A’lâ, seiring dengan sabda Rasulullah SAW, “Jika kalian memohon kepada Allah agar bisa masuk surga, maka memohonlah agar bisa masuk surga Firdaus.” Ya Allah, kami memohon kepadamu agar bisa masuk surga Firdaus.

Berbicara tentang surga tidak akan ada henti-hentinya. Kita harus mereview pengetahuan, kehidupan, dan perilaku kita jika dihadapkan dengan surga. Saya sangat yakin bahwa jika surga terasa berat di dada kita, maka upaya untuk mendapatkannya akan lemah. Hanya Allah yang bisa memberikan pertolongan.


(Dinukil dari : Man Yasytarii al-Jannah karya Dr. Raghib as-Sirjani)

Tanda - Tanda Kiamat

Hudzaifah bin As-yad al-Ghifary berkata, sewaktu kami sedang berbincang, tiba-tiba datang Nabi Muhammad S.A.W kepada kami lalu bertanya, “Apakah yang kamu semua sedang bincangkan.?”
Lalu kami menjawab, “Kami sedang membincangkan tentang hari Kiamat.”
Sabda Rasulullah S.A.W. “Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi sebelum kamu melihat sepuluh tanda :

· Asap
· Dajjal
· Binatang melata di bumi
· Terbitnya matahari sebelah barat
· Turunnya Nabi Isa A.S
· Keluarnya Yakjuj dan Makjuj
· Gerhana di timur
· Gerhana di barat
· Gerhana di jazirah Arab
· Keluarnya api dari kota Yaman menghalau manusia ke tempat pengiringan mereka.

Dajjal maksudnya ialah bahaya besar yang tidak ada bahaya sepertinya sejak Nabi Adam A.S sampai hari kiamat. Dajjal boleh membuat apa sahaja perkara-perkara yang luar biasa. Dia akan mendakwa dirinya Tuhan, sebelah matanya buta dan di antara kedua matanya tertulis perkataan ‘Ini adalah orang kafir’.
Asap akan memenuhi timur dan barat, ia akan berlaku selama 40 hari. Apabila orang yang beriman terkena asap itu, ia akan bersin seperti terkena selsema, sementara orang kafir pula keadaannya seperti orang mabuk, asap akan keluar dari hidung, telinga dan dubur mereka.

Binatang melata yang dikenali sebagai Dabatul Ard ini akan keluar di kota Mekah dekat gunung Shafa, ia akan berbicara dengan kata-kata yang fasih dan jelas. Dabatul Ard ini akan membawa tongkat Nabi Musa A.S dan cincin Nabi Sulaiman A.S.
Apabila binatang ini memukulkan tongkatnya ke dahi orang yang beriman, maka akan tertulislah di dahi orang itu ‘Ini adalah orang yang beriman’. Apabila tongkat itu dipukul ke dahi orang yang kafir, maka akan tertulislah ‘Ini adalah orang kafir’.

Turunnya Nabi Isa. A.S di negeri Syam di menara putih, beliau akan membunuh dajjal. Kemudian Nabi Isa A.S akan menjalankan syariat Nabi Muhammad S.A.W.
Yakjuj dan Makjuj pula akan keluar, mereka ini merupakan dua golongan. Satu golongan kecil dan satu lagi golongan besar. Yakjuj dan Makjuj itu kini berada di belakang bendungan yang dibangunkan oleh Iskandar Zulqarnain. Apabila keluarnya mereka ini, bilangannya tidak terhitung banyaknya, sehingga kalau air laut Thahatiah diminum nescaya tidak akan tinggal walau pun setitik.

Rasulullah S.A.W telah bersabda, ” Hari kiamat itu mempunyai tanda, bermulanya dengan tidak laris jualan di pasar, sedikit sahaja hujan dan begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan. Ghibah menjadi-jadi di merata-rata, memakan riba, banyaknya anak-anak zina, orang kaya diagung-agungkan, orang-orang fasik akan bersuara lantang di masjid, para ahli mungkar lebih banyak menonjol dari ahli haq”
Berkata Ali bin Abi Talib, Akan datag di suatu masa di mana Islam itu hanya akan tinggal namanya sahaja, agama hanya bentuk sahaja, Al-Qur’an hanya dijadikan bacaan sahaja, mereka mendirikan masjid, sedangkan masjid itu sunyi dari zikir menyebut Asma Allah. Orang-orang yang paling buruk pada zaman itu ialah para ulama, dari mereka akan timbul fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka juga. Dan kesemua yang tersebut adalah tanda-tanda hari kiamat.”

Sabda Rasulullah S.A.W, “Apabila harta orang kafir yang dihalalkan tanpa perang yang dijadikan pembahagian bergilir, amanat dijadikan seperti harta rampasan, zakat dijadikan seperti pinjaman, belajar lain daripada agama, orang lelaki taat kepada isterinya, menderhakai ibunya, lebih rapat dengan teman dan menjauhkan ayahnya, suara-suara lantang dalam masjid, pemimpin kaum dipilih dari orang yang fasik, oarng dimuliakan kerana ditakuti akan tindakan jahat dan aniayanya dan bukan kerana takutkan Allah, maka kesemua itu adalah tanda-tanda kiamata.”


November 16, 2007 at 4:40 am | In Cerita - cerita Islami |

Duhai Suamiku…

Kadangkala mungkin tergambar di benak fikiranmu, bahwa engkau telah salah ketika memilih diriku menjadi pasanganmu. Kadang kala ia mengganggu dalam pergaulan sehari-harimu denganku, terkadang ku takut perasaan cintamu berubah menjadi benci, limpahan kasih sayangmu menjelma menjadi kemarahan, dan ketenangan pun berubah menjadi ketegangan.
Suamiku…..

Di saat engkau masih sibuk dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai, tak jarang aku kau abaikan. Waktu di rumah pun, kadang ku ikhlaskan demi masa depanmu. Bukankah engkau tahu aku pun butuh perhatian darimu. Terkadang ku cari perhatian itu, namun terlihat salah dipandanganmu. Kalaulah itu terlihat salah, semoga engkau bisa melihat kebaikanku yang lain. Bukankah Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, “Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, “Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka.” Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)

Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. Tidaklah sepatutnya bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu, sedangkan engkau sendiri tak pernah sekalipun menghitung kekurangan dan kesalahanmu. Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.

Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?” Ali r.a. pun menjawab, “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku.

Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan, sadarlah, sesungguhnya egois telah menguasai dirimu. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, “Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian.” Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.
Duhai Suamiku…

Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.” [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.

Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.
Wahai Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini…
Aku telah jatuh cinta kepada lelaki pasangan hidup ku,
jadikanlah cinta ku pada suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,
hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,
jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,
jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,
ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.
Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
Amin ya rabbal alamin.


Ditulis pada oleh sigit setiawan