Sabtu, 14 Juni 2008

Anakku...

Nak, jauh sebelum kau hadir dalam kehidupan ayah dan ibu, kami senantiasa bermohon kepada Allah Swt agar dikaruniai keturunan yang sholeh dan sholihah, yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, rajin beribadah dan belajar, serta dapat menjadi penerus dakwah Ilallaah.

Banyak rencana yang kami rancang, agar kelak bila kau hadir, kami sudah siap menjadi orang tua yang baik dan mampu mendidikmu dengan didikan yang sesuai dengan dinnul Islam, tuntunan kita seperti yang dicontohkan oleh Rosulullah Saw kepada kita.

Ayah dan Ibu ingin, kelak bila Allah mengamanahkan kepada kami seorang putri, maka dia akan berakhlaq seperti akhlaqnya Fatimah putri Rasulullah, dan bila Allah mengamanahkan seorang putra, maka dia akan seperti Ali.


Setelah tanda kehadiranmu mulai tampak, Ibu sering mual, muntah-muntah, sakit kepala dan sering mau pingsan, Ibu dan Ayah bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, kami menjagamu sepenuh hati, serta senantiasa berharap, kelak kau lahir sebagai anak yang sehat, sempurna dan menyenangkan.

Sejak dalam rahim, kami mencoba menanamkan kalimat-kalimat tauhid kepadamu dan berupaya mengenalkanmu kepada Sang Pencipta, dengan bacaan ayat-ayat suci-Nya, dengan senandung-senandung shalawat Nabi, dengan nasyid-nasyid yang membangkitkan semangat da’wah dan rasa keimanan kepada Allah yang Esa.

Saat kau akan lahir, Ibu merasakan sakit yang amat sangat, seolah berada antara hidup dan mati, namun Ibu tidak mengeluh dan putus asa, karena bayangan kehadiranmu lebih Ibu rindukan dibanding dengan rasa sakit yang Ibu rasakan. Ibu tak henti-hentinya berdo’ a, memohon ampunan dan kekuatan kepada Allah. Ayahpun tidak tidur beberapa malam untuk memastikan kehadiranmu, menemani dan menguatkan Ibu, agar sanggup melahirkanmu dengan sempurna. Bacaan dzikir dan istighfar, mengiringi kelahiranmu.

Begitu kau lahir, sungguh rasa sakit yang amat sangat sudah terlupakan begitu saja. Setelah tangismu terdengar, seolah kebahagiaan hari itu hanya milik Ibu dan Ayah. Air mata yang tadinya hampir tak henti mengalir karena menahan sakit, berganti menjadi senyum bahagia menyambut kelahiranmu. Ibu dan Ayah bersyukur kepada Allah Swt, kemudian Ayah melantunkan bacaan adzan dan iqomat ditelingamu, agar kalimat yang pertama kali kau dengar adalah kalimat Tauhid yang harus kau yakini dan kau taati selama hidupmu.

Saat pertama kali kau isap air susu Ibu, Ibu merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada tara. Ibu ingin memberikan semuanya kepadamu, agar kau segera tumbuh besar dan sehat. Ibu berupaya supaya ASI ini dapat mencukupi kebutuhanmu. Ibu berupaya untuk selalu dekat denganmu, dan selalu mengajakmu kemanapun Ibu pergi, supaya kapanpun kau lapar, Ibu selalu siaga memberikan air surgawi karunia Ilahi itu kepadamu.

Ibu berusaha untuk selalu siap siaga menjagamu, kapanpun dan dalam keadaan apapun. Saat malam sedang tidur lelap, Ibu akan terjaga bila kau tiba-tiba menangis karena popokmu basah atau karena kau lapar. Saat sedang makan dan kau buang air besar, Ibu dengan rela menghentikan makan dan mengganti popokmu dulu. Dan semuanya, Ibu lakukan dengan senang hati, tanpa rasa risih dan jijik.

Sejak kau masih dalam ayunan, Ibu senantiasa membacakan do'a dalam setiap kegiatan yang akan kau lakukan. Ibu bacakan do'a mau makan ketika kau hendak makan, do’a mau tidur ketika kau mau tidur, dan do’a apa saja yang harus kau tahu dan kau amalkan dalam kehidupan keseharianmu. Ibu bacakan selalu ayat kursi dan surat-surat pendek satu persatu setiap malam, dikala mengantarmu tidur, ayat-per ayat dan Ibu ulang berkali-kali hingga kau sanggup mengingatnya dengan baik, dengan harapan kau besar nanti menjadi penghafal Al Qu’ran.

Ketika kau sudah mampu berbicara, subhanallah, tanpa kami duga, kau telah hafal berbagai macam do’a dan beberapa surat pendek. Ibu bersyukur dan bangga kepadamu. Muncul harapan dalam hati ini, kelak kau tumbuh menjadi anak yang pintar dan rajin belajar.

Tatkala kau mulai belajar sholat, dan usai sholat kau lantunkan do’a untuk orang tua, walau dengan bacaan yang masih belum sempurna, bercucur air mata ibu karena kau telah mampu melafalkan do’a itu. Timbul harapan dihati yang paling dalam, kelak hingga ketika Ibu dan Ayah tiada, kau tetap melantunkan do’a itu, karena do’amu akan memberikan kepada Ibu dan Ayah pahala yang tak henti-hentinya di yaumil-akhir. Kaulah asset masa depan bagi umi dan abi. Kau akan mampu menolong umi dan abi di yaumil-akhir nanti, bila kau menjadi anak yang sholihah.

Nak, kehadiranmupun memberikan kepada Ibu dan Ayah pelajaran yang sangat berharga, kau mengingatkan kami
tatkala masih sepertimu. Mengingatkan dengan lebih kuat lagi, betapa besar pengorbanan yang dilakukan oleh kakek nenekmu kepada kami, hingga Ibu dan Ayah tumbuh dewasa dan bahkan sampai menjadi orang tua seperti mereka.

Ibu dan Ayah sangat menyayangimu, karena kami ingin kaupun menjadi anak yang penyayang terhadap sesama. Kami hampir selalu menyertakan kata sayang dibelakang namamu saat memanggilmu, supaya hatimu senang dan gembira bersama Ibu dan Ayahi.

Saat kau memasuki usia sekolah, Kami carikan sekolah yang baik untukmu. Sekolah yang memiliki visi pendidikan seperti yang Ibu dan Ayah inginkan. Alhamdulillaah, saat kau mulai sekolah, telah banyak berdiri sekolah-sekolah Islam Terpadu, sehingga kami tidak kesulitan mencarikan sekolah untukmu. Ayah mengantarmu ke sekolah setiap pagi dan Ibu mendampingimu selalu hingga kau berani ditinggal di sekolah sendiri.

Keperluan sekolahmu selalu kami upayakan, walau kadang harus dengan susah payah, agar kau bisa memperoleh pendidikan yang baik dan layak untuk kehidupanmu dimasa yang akan datang. Kami senantiasa berupaya membimbingmu untuk dapat melakukan segala sesuatu, agar saat besar nanti kau mampu melayani dirimu sendiri.

Bila Ibu dan Ayah tidak mau melayanimu untuk hal-hal yang sudah dapat kau lakukan sendiri, itu bukan berarti kami tidak menyayangimu, tapi justru sebaliknya. Karena Ibu dan Ayah sayang sekali padamu, kau tidak boleh terlalu dimanjakan, hingga saat kau besar nanti, kau jadi anak yang mandiri dan serba bisa.

Maafkan Ibu dan Ayah bila sekali waktu (atau bahkan sering) memarahimu ketika kau membuat kesalahan yang berulang-ulang. Sungguh, sebenarnya Ibu dan Ayah tak ingin memarahimu, namun kamipun sadar bahwa kau harus tahu dan harus dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, agar saat kau dewasa dan telah bergaul dengan masyarakat umum nanti, kau bisa memilih untuk selalu melakukan yang haq dan meninggalkan yang bathil. Semoga kau tidak salah sangka.

Maafkan pula bila Ibu dan Ayah selalu membatasi tontonan dan bacaanmu, karena dewasa ini sangat banyak media yang dapat merusak pendidikan yang sudah kami terapkan kepadamu. Itu semua kami lakukan, agar kau terpelihara dari hal-hal negatif yang akan mendangkalkan akhlaq dan perilakumu. Ibu dan Ayah ingin, kau menjadi anak yang faqih dalam hal agama, menjadi generasi Qur’ani, dan menjadi penerus dakwah Ilallaah.

Inilah harapan Ibu dan Ayah kepadamu, sangat banyak dan sangat ideal. Oleh karenanya, kami senantiasa memohon petunjuk dan bimbingan dari Allah Yang Esa, yang Berkuasa dan Maha Agung, agar tidak salah langkah dalam mendidikmu.

Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyaatinaa qurrota a'yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaaman. Amiin


Artikel:"_Dari Berbagai Sumber_"

Ijinkan Aku Menciummu Ibu...

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku dipaksa membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang
mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi doa di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.


Artikel:"_Dari Berbagai Sumber_"

Kecantikan Wanita

Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan. Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai. untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan mereka yang kelaparan. Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari. Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian.

Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kecilkan seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.

Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang.


Artikel:"_Dari Berbagai Sumber_"

Ibu

Ibu

Kangenku jauh darimu

Pedih bathinku

Tak kunjung habis terobatin

Ibu

Sedih ku ketika itu

Salam perpisahan beriring pesan

Jangan lupakan yang lima

Kini ku jauh dirantau orang

Ingin ku tumpahkan seluruh air mata ku

Namun hati dan jiwaku tak kuasa

Ibu..rindukah engkau pada anakmu ini

Ku tahu ku tak pernah pergi jauh

Ku tahu aku anak kesayanganmu

Ingin ku lepas seluruh rindu ini

Dengan mencium tanganmu

Ibu

Sebentar lagi ulang tahun ku

Masih ingatkah engkau

Yang selalu kita rayakan bersama

Aku rindu suapan dari tanganmu

Aku rindu belaian kasihmu

Aku rindu nasehat-nasehat darimu

Ibu aku selalu merindukanmu

10 desember 2005

Hati yang tak tergugah

Dien b’faces

Jumat, 13 Juni 2008

Kajian Sang Alam

Pernah ku berfikir,hendak seperti bunga

Yang harum ketika hendak mekar

Tapi waktunya tak lama

Ia layu dan berguguran

Ketika kau samakan diriku dengan tanah

Aku dengan bangganya menopong sesuatau

Tapi ketika aku di injak-injak orang

Semagatku pudar kembali

Kulihat si kecil smut yang imut

Bebaris rapi didinding

Ingin pula ku seperti dirinya

Tapi hanya setetes hujan ku terkapar tak berdaya

Lain lagi dengan rumput dan ilalang

Yang selalu bermandikan embun pagi

Lalu ku berkata :ingin pula seperti dia

Latas tak banyak orang yang menyukaiku

Lalu terlihatlah olehku batu

Ingin pula ku seperti dia

Yang selalu tetap pada pendiriannya

Tapi ku tak ingin diam dan membisu selamanya

Ya allah…ingin seperti apakah aku ini

Lebih baik aku menjadi diriku sendiri

10 desember 2005

Hati yang tak tergugah

Dien b’faces

Do'a Seorang Muslimah

Ya Rabbi,

Aku berdoa untuk seorang pria, yang akan menjadi bagian dari hidupku. Seorang pria yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.

Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau. Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU.

Seorang pria yang mempunyai sebuah hati yang sungguh mencintai dan haus akan Engkau dan memiliki keinginan untuk menauladani sifat-sifat Agung-Mu.

Seorang pria yang mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia. Seorang pria yang memiliki hati yang bijak bukan hanya sekedar otak yang cerdas.


Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku.
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah.
Seorang pria yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tetapi karena hatiku.

Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi.
Seorang pria yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika berada disebelahnya.

Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya.
Seorang pria yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya.
Seorang pria yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

***

Dan aku juga meminta:

Buatlah aku menjadi seorang perempuan yang dapat membuat pria itu bangga.
Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU, sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMU, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.

Berikanlah SifatMU yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMU bukan dari luar diriku.
Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.

Berikanlah aku penglihatanMU sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja.
Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari, dan aku dapat tersenyum padanya setiap pagi.

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakaan "Betapa besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna".

Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kautentukan.


Artikel:"_Dari Berbagai Sumber_"

Menggugat Paradigma Sukses Pendidikan

“Kalau sudah besar mau jadi apa nak?”
”Jadi doktel......”
”Jadi insinyur, bikin pesawat!!!”
”Jadi PROFESOR.....”
”Jadi bintang pilem....”
”Wah pintar semua murid ibu yaaa.....”
Potret percakapan yang tidak asing lagi ditelinga kita ketika anak-anak kita yang manis-manis dan lucu-lucu ditanyakan cita-cita mereka.
Nelongso....LHO? Ya, prihatin. Sebab anak-anak kita fasih sekali menyebutkan cita-cita duniawi mereka, bahkan sejak mereka kecil.

Seorang hafidz baru saja menerima murid baru, seorang anak remaja usia 16 tahun. Setelah wawancara dengan sang calon murid, sang hafidz bicara dengan orangtua anak tersebut: ”Wah Pak, saya terharu sekali, setelah 6 th mengajar tahidzul Qur’an di sekolah Islam terpadu, baru kali ini saya mendapatkan murid yang bercita-cita jadi hafidz 30 juz!”. Kontan si orangtua bertanya: ”Apa begitu, stadz? Kan banyak orangtua murid menyekolahkan anak mereka ke sini justru karena pendidikannya terpadu dengan Islam? Bahkan tahfidzul Qur’an termasuk kurikulum, ’kan?”. ”Yaah, begitulah Pak, kenyataannya perhatian murid maupun orangtua terhadap Qur’an juga tidak sebesar itu. Maksud saya, sedikit sekali yang berpikir menjadikan keahlian Qur’an sebagai cita-cita untuk dikejar.” Nelongso dua kali!

Memang itu kenyataan zaman kita sekarang. Jika seorang ditanya suami model apa yang ia harapkan untuk putrinya, maka kebanyakan jawaban pertamanya menyangkut kriteria keberhasilan seperti: sarjana, dokter, orang kaya dst. Begitu pula jika ditanya apa yang ia harapkan dari putra-putrinya sendiri kelak jika mereka sudah besar dan dewasa.
Salahkah itu? Belum tentu.
Memang keberhasilan dunia adalah hal yang perlu. Perlu untuk kehidupan di dunia fana ini. Menurut pendapat umum, seseorang yang mempunyai sederet gelar keberhasilan dunia pasti hidupnya ’tidak susah’. Benarkah tidak susah?

Seorang anak manusia yang lahir tanpa pengetahuan, adalah obyek garapan lingkungan hidupnya. Ia akan belajar baik dan buruk dari apa yang tersaji padanya sebagai rangkaian pengalaman, pembelajaran dan peristiwa. Kesimpulan-kesimpulan yang diperolehnya merupakan resultante/hasil dari berbagai pengaruh tersebut dengan ditambah apa yang ia bawa sebagai bakat genetiknya. Jadilah ia manusia zamannya, manusia hari ini.
Ibu, bapak, guru dan keluarga merupakan guru-guru pertama dan utama. Dari orang-orang inilah si anak pertama kali mempelajari apa arti sukses dan gagal. Seorang yang sepanjang hidupnya selalu melihat praktek penghambaan terhadap materi, ia akan mengadopsi pandangan lingkungannya tentang mana yang ’patut dipilih’ atau ’patut dihindari’. Atau dalam bahasa populer: mana yang dianggap ’sukses’ dan ’baik’ dan mana yang dianggap ’gagal’ dan ’buruk’. Dalam dunia yang saat ini dikuasai materialisme, semua kriteria sukses dihubungkan dengan kesuksesan bendawi dan semakin jauh dari pemahaman dan pendalaman nilai-nilai tinggi yang tidak kasat mata. Kebahagiaan seseorang hanya diapresiasi dari gemerlap bajunya, mentereng rumahnya tanpa melihat kepada airmata duka yang terpendam dalam pahit hidupnya yang morat-marit dan kegelisahan hatinya yang kering kerontang. Hal-hal seperti itu baru terlihat dan diperhatikan orang banyak hanya jika sudah terangkat sebagai bahan celotehan acara tayangan gossip. Mirisnya, tayangan-tayangan seperti itupun TIDAK memberikan kesimpulan-kesimpulan yang mendidik. Cukup sekedar memoles berita menjadi bahan obyek rating dan mottonya: semakin seru semakin tinggi nilai gossipnya.

Hidup memang ujian. Sudah pasti hidup seseorang akan mengalami enak dan tidak enak, susah dan senang. Namanya juga dunia, ”daarul ibtila’ ” atau kampung ujian.
Lalu bagaimana seharusnya kita menilai sukses dan tidak sukses kehidupan dunia ini?

Sebagai sebuah sistem nilai yang sempurna, Islam mempunyai sebuah ‘paradigma sukses’ yang khas dan tidak bisa difahami kecuali dengan kelengkapan pemahaman dari sub-sistem nilai Islam yang lain, yaitu misalnya dari Aqidah Islamiyah.
Sebagaimana yang dapat kita lihat pada ayat berikut:

“ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)

Kita lihat di sini bahwa (1) Yang dimaksud dengan ‘sukses’

Menurut paradigma Al-Qur’an adalah Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga. (2) Ditegaskan lagi bahwa yang namanya kehidupan dunia hanyalah suatu keadaan sementara (fana) sedangkan penyempurnaan pahala hanya terjadi di Akhirat (3) Paradigma sukses menurut Islam tidak terlepas dari masalah keimanan pada hari Kiamat (masalah Aqidah/ faith).

Hidup ini sebentar dan semu, sedangkan HIDUP yang sebenarnya, yang panjang, yang kekal, yang abadi, justru adalah hidup nanti.

Memang, ternyata pandangan kita masih pendek.(san)


Artikel:"_Dari Berbagai Sumber_"